KATA
PENGANTAR
Alhamdulillahi
Rabbil’alamin, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah serta pertolongannya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada semester dua ini. Sholawat
dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pembawa risalah ALLAH,yakni Nabi
Muhammad SAW.
Makalah ini merupakan pemenuhan dari
salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Namun buku ini juga dapat
dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui dan mendalami islam dan
pengembangan ilmu pengetahuan alam.
Makalah ini diharapkan dapat
memberikan solusi berdasarkan wawasan keislaman kepada pembaca khususnya dari
kalangan mahasiswa karena kajian yang dibahas berhubungan dengan ilmu
pengetahuan alam yang lagi jaya pada saat-saat ini. Makalah ini membekali
pencerahan spiritual dan intelektual
yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahamai.
Sebagai akhir dari pengantar ini,
kami mengucpkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu kelancaran
dalam proses pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu kritik dan saran kami harapkan untuk kesempurnaan makalh ini lebih lanjut.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, amin.
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam mejalani hidup, manusia memerlukan agama
sebagai pedoman dalam membimbing dan mengarahkan kehidupannya agar selalu
berada di jalan yang benar. Agama tidak skedar dijadikan sebagai identitas
belaka, melainkan benar-benar difungsikan dalam kehidupan sehari-hari agar
kehidupan manusia terbimbing dan terarah. Islam sebagai agama penyempurna dan
paripurna sangat ementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
di orientasikan sebagai sarana ibadah pengabdian muslim kepada ALLAH SWT dan
melaksanakan amanat khalifatullah dimuka bumi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup
manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi.
Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan
membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Lingkungan hidup
seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan
dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan
hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan
kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan,
dan perjudian.
Di sinilah, peran agama dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sangat penting untuk ditengok
kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang
positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
Perbedaan antara Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam?
2. Bagaimana
Perkembangan Khazanah Kemajuan Iptek dalam Sejarah Peradaban Islam?
3. Kemana
Arah Pengembangan Iptek dalam Islam?
4. Bagaimana
Berperilaku Islami dalam Menghadapi Kemajuan Iptek?
C. TUJUAN
1.
Diharapkan dapat mengetahui konsep
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam
2.
Di harapkan dapat mengetahui
khazanah kemajuan iptek dalam sejarah peradaban islam
3.
Diharapkan dapat mengetahui arah
pengembangan iptek dalam islam
4.
Diharapkan dapat berprilaku sesuai
islam dalam menghadapi kemajuan iptek
D. MANFAAT
Bagi
pembaca :
1. Dapat
menjadi tuntunan dalam memanfaatkan iptek dengan sebaik mungkin
2. Dapat
menjawab tantangan zaman melalui perkembangan iptek secara islami
3. Dapat
berprilaku sesuai kaidah islam dalam menghadapi kemajuan iptek
4. Dapat
menambah khazanah kemajuan iptek dalam peradaban islam
5. Dapat
mengetahui konsep ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam
Bagi
penulis :
1. Memberikan
wawasan baru tentang perkembangan iptek secara islami
2. Mendapatkan
informasi tentang kemajuan iptek dalam islam
3. Dapat
memberikan solusi bagaimana mengatasi perkembangan iptek secara islami
4. Dapat
mengetahui arah pengembangan kemajuan iptek secara islami
BAB
II PEMBAHASAN
ISLAM
DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
A. Konsep
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam
Iptek menjadi dasar
dan pondasi yang menyangga bangunan peradaban modern. IPTEK terdiri dari dua
hal yaitu Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi, dua hal yangmemiliki arti dan
peranan masing-masing dalam kehidupan manusia. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi telah muncul sejak manusia lahir, hal ini dikarenakan manusia diberi
akal dan kemampuan berfikir dari Allah SWT.Ilmu
Pengetahuan dapat didefinisiikan sebagai segala hal yang diketahui manusia dengan
pancaindra dan intuisi serta sudah diproses sedemikian ruga sehingga objektif
dan kebenarannya dapat diuji secara ilmiah. Teknologi, di lain pihak
merupakan salah satu produk dari ilmu pengetahuan
yang berwujud maupun berupa bentuk. Konsep umum
dari munculnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi awal mulanya adalah untuk
memudahkan kehidupan manusia dan untuk menjelaskan fenonema alam yang tadinya tidak dapat dijelaskan sehingga
manusia memiliki
tingkat pemahaman yang lebih maju sekaligus komplek mengenai alam semesta. Terlepas dari
tujuan dan konsep awal,implementasi dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berada di tangan manusia
dan mampu memiliki dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi
manusia juga sebaliknya dapat membawa
dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan
lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.Sebagai faktor pembentuk
budaya masyarakat, IPTEK memiliki andil atas fenomena yang
kita jumpai saat
ini.
Dalam Islam pun diajarkan untuk menuntuk ilmu yang mengindikasikan bahwaselama ilmu tersebut bermanfaat bagi
umatnya (dalam konteks positif) maka diwajibkan bagi umatnya untuk mempelajarinya, hal ini juga sebagai wujud syukur akan
Allah atas kemampuan akal dan
kemampuan berfikir yang diberikan. Selain itu, Agama Islam juga mewajibkan
bagi umatnya untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh untuk kebaikan didunia,
yang di realisasikan dalam bentuk teknologi serta pengajaran akan ilmu tersebut.
Dalam
pemikiran islam ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Oleh karena itu ilmu
dalam pemikiran islam terbagi menjadi ilmu bersifat abadi dan ilmu bersifat
perolehan. Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi
terdapat hubungan yang harmonis yang disebut Dinul Islam yang memiliki 3 unsur
pokok yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Dalam Q.S. Ibrahim (14) : 24-25
“ (24)
Maka kamu perhatikan bagaimana ALLAH telah membuat perumpamaan kalimat yang
baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit,
(25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musin dengan seizing tuhannya.
Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Ini
gambaran bahwa antara iman, ilmu, dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh .
iman di identikkan dengan dengan akar pohon yang menopang tegaknya ajaran
islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan dan cabang-cabang
ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon yang di identikkan
dengan teknologidan seni. Iptek yang dikembangakan di atas nilai-nilai iman dan
ilmu akan menghasilkan amal shalih, bukan kerusakan alam.
B. Khazanah
Kemajuan IPTEK dalam Sejarah Peradaban Islam
Kejayaan Islam masa Dinasti Abbasiyah
Dinasti
Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara)
Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Dinamakan Dinasti Abbasiyah
karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani
Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini Abdullah as-Saffah ibn
Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Dalam
zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan,
disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu
sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli
tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Zaman
ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya
tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai
ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman
ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana
umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan
yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu
pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat
pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku
peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai
suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar
lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu
pengetahuan. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya.
Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid,
hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala
bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Kegemilangan Iptek di Masa Khilafah Abasiyyah
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat
dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu
al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III
(1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan
ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir
ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut
saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan
dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037)
yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal
di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya
Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak
ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman
sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga
dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak
dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka
sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di
negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang
disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat
2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga
terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid
Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang
dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang
dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang
dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan
kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam. Tapi
jangan khawatir, someday Islam akan kembali jaya dan tugas kita semua untuk
mewujudkannya.
Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke
puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan
Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.
Masa kejayaan Islam, terutama dalam
bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah
Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan Harun
Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Saat
itu, kata Lutfi, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu
pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang
dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.
Pada saat itu tentara Islam juga
berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar
batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari
luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan
membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat
dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir.
Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak,
ditambah tenaga ahli. Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi
pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu
Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan
Usmaniyah. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari
konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten
menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh
Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki.
Runtuhnya
sebuah kejayaan
Jatuh itu
memang menyakitkan. Apalagi ketika kita udah berada jauh di puncak kesuksesan.
Setelah berhasil membangun kejayaan selama 14 abad lebih, akhirnya peradaban
Islam jatuh tersungkur. Inilah kisah tragis yang dialami peradaban Islam. Bukan
tanpa sebab tentunya. Serangan pemikiran dan militer dari Barat bertubi-tubi
menguncang Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah. Puncaknya, adalah
tergusurnya Khilafah Islamiyah di Turki dari pentas perpolitikan dunia.
Jadi
terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya
tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias
Konstantinopel diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa
Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah
Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin ke
Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal
mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah.
C. Arah
Pengembangan IPTEK dalam Islam
Allah telah menciptakan manusia dengan potensi akal untuk memahami
elemen- elemen alam, menyelidiki dan menggunakan benda-benda dalam bumi dan
langit demi kebutuhannya. Allah SWT dalam QS. 17(Al Isra’) 70 berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Artinya: Dan sesungguhnya telah
kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, Kami
beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Dalam ayat tersebut, Al-Qur’an sakhhara
yang artinya menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya ini
dengan segala manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk dan dianggap
sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia. Peran manusia sebagai
khalifah dimuka bumi menyebabkan alam semesta tunduk dalam kepemimpinan manusia
yang sejalan dengan maksud Allah SWT. Dalam QS. 13(Ar Ra’du) : 2 Allah
berfirman:
اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ
بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ
الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Artinya : Alla lah Yang
meninggikan langit tanpa tiang(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas Arasy, manundukkan matahari dan bulan. Masing- masing
beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan(makhluk Nya),
menjelaskan tanda- tanda(kebesaranNya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu)
dengan Tuhanmu.
Dengan kemampuan akal, ilmu, dan teknolginya manusia dapat meniru segala kekuatan
beraneka makhluk, manusia dengan kapal udara dan jet dapat terbang ke udara
seperti burung. Manusia dapat menembus bumi dengan teknologinya serta menggali
segala mineral dan minyak yang terpendam dalam bumi.
Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam hendaknya
memiliki dasar dan motif bahwa yang mereka lakukan tersebut adalah untuk
memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari
keridhaan Allah sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah
berfirman dalam Q.S. Al Bayyinah 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah
agama yang lurus.
Ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah iqra’bismirabikalladzi khalaq (bacalah dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan). Hal ini bermakna ketundukan manusia bukan kepada alam dan segala
yang diciptakan, melainkan pada penguasa Alam. Allama bil qalam ( yang mengajar dengan qalam). Makna qalam terus berkembang sepanjang jalan,
mulai dari alat tulis sederhana,sampai arti qalam
di abad modern ini, sepeti mesin tik,computer,mesin percetakan,cetak jarak
jauh,internet, dan handphone yang beraneka fungsinya yang terus berkembang. Qalam adalah alat tulis dan alat
perekam,sebagai lambing teknologi.
Dalam Islam segala amal perbuatan(manusia muslim) senantiasa di kaitkan
dengan keridhaan Allah. Dalam masalah ibadah senantiasa memperhatikan petunjuk
dari Rasulullah. Tapi dalam menghadapi dunia yang terus berkembang ini, manusia
diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk di kembangkan dengan memperhatikan
batasan-batasan yang telah di tentukan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah lapangan kegiatan yang
terus-menerus berkembang dan perlu dikembangkan karena mempunyai manfaat
sebagai penunjang kehidupan manusia. Dengan adanya teknologi, banyak segi
kehidupan manusia yang dipermudah berpijak kepada dasar dan motif dalam
pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kecanggihan
teknologi bagi umat muslim taklain untuk memperoleh kemakmuran dan
kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari ke ridhaan Allah,
sehingga dapat di capai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam
perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya
mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam
sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat
dalam kerangka berikut ini:
- Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah
dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan
kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah
swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
- Ilmu harus dikembangkan dalam rangka
menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga
setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa
pandang bulu.
- Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan
keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
- Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil
manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah
menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di
langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
- Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan
tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada
diri manusia itu sendiri.
- Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan
menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM
(Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi
dengan nilai keagamaannya.
- Di samping itu hal yang harus diperhatikan
pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik
semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum
sangat menentukan.
- Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk
KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan
ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari
gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan
co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut
maka musti diawali dengan revolusi pemikiran (Taghyiir al Afkaar) dan
pemahaman manusia terhadap Islam.
D. Berperilaku
Islami dalam Menghadapi Kemajuan IPTEK
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh
peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai
penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan
oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan
meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap
segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat modern dan postmodern saat ini memang memperlihatkan
kemajuan dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian
hidup bagi umat manusia. Namun lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan
dan agama.
Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali
dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap Tuhan Allah SWT dan
terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat
KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang
fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran
terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang
prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis
atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan
modern tersebut.
Karena alam semesta –yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan–, dan
ayat-ayat suci Tuhan (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW — yang dipelajari
melalui agama– adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat)
Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak
belakang, karena keduanya berasal dari satu Sumber yang Sama, Allah Yang Maha
Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta. Dalam membicarakan
tentang iptek mulai dikaitkan dengan moral dan agama. Dalam kaitan ini,
keterkaitan iptek dengan moral (agama) diharapkan bukan hanya pada aspek
penggunaannya saja ( aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontology) dan
metodologi(epistemology)nya sekaligus.
Dinegara ini gagasan tentang pendidikan imtak dan iptek sudah lama di
gulirkan seperti yang diterapkan BJ.Habibie karena adanya problem dikotomi
antara apa yang di namakan ilmu-ilmu umum(sains) dan ilmu-ilmiu agama (islam)
juga disebabkan adanya kenyataan bahwa pengembangan iptek dalam system
pendidikan di Indonesia tampaknya berjalan sendiri tanpa dukungan asas iman dan
taqwa yang kuat sehingga pengembangan dan kemajuan iptek tidak memiliki nilai
tambah dan manfaat untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Secara lebih spesifik integrasi pendidikan imtak dan iptek di perlukan
karena empat alasan :
1.
Iptek akan memberikan berkah dan
manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup manusia bila iptek disertai
oleh asas iman dan taqwa kepada allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtak,iptek
bias disalah gunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif (merusak)
2.
Iptek yang menjadi dasar
modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik,materialistic
dan hedonistic yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang
di anut oleh bangsa Indonesia
3.
Dalam kehidupan, manusia tidak
hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan jasmani), tetapi juga membutuhkan
imtak dan nilai-nilai surgawi( kebutuhan spiritual) oleh karena itu, penekanan
pada salah satu sisi, akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat
sebelah , dan menyalahi hipnat kebijaksanaan tuhan yang telah menciptakan
manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan batin, dunia dan akhirat
4.
Imtaq menjadi landasan dan dasa
paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup.tanpa dasar
imtak, segala atribut duniawi,seperti harta, pangkat, ipte, dan keturunan,
tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan.
Aqidah Islam sebagai landasan iptek
Jika kita
menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu
astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat
tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan
fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Jadi, yang
dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep
iptek wajib bersumber kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits. Ringkasnya, Al-Qur`an dan
Al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Asalkan
iptek yang dikembangkan sesuai dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits.
Setiap
manusia diberi hidayah allah SWT berupa ‘’ Alat” untuk mencapai dan membuka
kebenaran. Hidayah tersebut adalah Indra, untuk menangkap kebenaran fisik Naluri,
untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara pribadi maupun
social. Pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan
tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa,ilmiah dan fisafih). Akal juga
merupakan pengantar untuk menuju kebenaran tertinggi. Imajinasi, daya hayal
yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya
Hati
nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah
laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral
Dalam
menghadapi perkembangan budaya,manusia dengan perkembangan iptek yang pesat, perlu
mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma islam dengan perkembangan
tersebut.Menurut Mehdi Ghulsyani (1995),Menurut Al-Faruqi yang mengintrodusir
istilah. “ Islamisasi Ilmu Pengetahuan “dalam menghadapi perkembangan
iptek ilmuwan muslim dapat di kelompokan dalam 3 kelompok ;
- Kelompok yang menganggap iptek modern bersifat
netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil iptek modern dengan mencari
ayat-ayat al-qur’an yang sesuai
- Kelompok yang bekerja dengan iptek modern,
tetapi berusaha juga mempelajari sejarh dan filsafat ilmu agar dapat
menyaring elemen-elemen yamg tidak islami
3. Kelompok
yang percaya adanya iptek islam dan berusaha membangunnya
Untuk menyikapi iptek dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan iptek untuk meningkatkan martabat manusia dan
meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.Sedangkan,kebenaran iptek menurut
islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya iptek sendiri.Iptek akan
bermanfaat apabila;
- Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan
menjauhkannya
- Dapan membantu umat merealisasikan
tujuan-tujuannya (yang baik)
- Dapat memberikan pedoman bagi sesame
- Dapat menyelesaikan persoalan umat
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Iptek terdiri dari dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi .Ilmu Pengetahuan dapat
didefinisiikan sebagai segala hal yang diketahui manusia dengan pancaindra.
Sedangkan Teknologi merupakan salah satu produk dari ilmu pengetahuan yang berwujud maupun berupa bentuk.
2. Kegemilangan Islam di
jaman Abassyiah menjadi kiblat peradaban dunia. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
beerkembang begitu pesat.
3. Perkembangan Iptek bagi umat muslim tak lain kecuali untuk
memperoleh kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari ridho ALLAH
SWT.
4. Menghadapi kemajuan Iptek harus sesuai dengan indera, naluri,
pikiran, imajinasi serta hati nurani dengan pengertian secara luas.
3.2 Saran
kemajuan IPTEK sangat berdampak bagi kehidupan manusia didunia. Sebagai
generasi muda penerus bangsa sudah selayaknyabelajar untuk menggunakan dan
memanfaatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik mungkin namun tetap berdasar
aturan-aturan Agama Islam . Sudah semestinya kita bersatu menguasai IPTEK agar
tidak kalah dengan bangsa lain itu. Namun, tetap saja, jika kita telah
mendapatkan IPTEK, segeralah imbangi diri anda dengan Iman dan Taqwa
DAFTAR PUSTAKA
Akbar,
Ravi Garibaldi. 2011. LTM MPK Agama Islam.
Tim
Dosen Pai Unesa. 2013. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Surabaya :
Unesa University Press
http://www.al-shia.org/html/id/books/001/01.html