bersatu kita teguh , bercerai kita runtuh

Setiap manusia pasti pernah mengalami kegagalan, karena kegagalan merupakan tangga untuk mencapai sebuah kesuksesan

Jumat, 08 Maret 2013

islam dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


KATA PENGANTAR
           
Alhamdulillahi Rabbil’alamin, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta pertolongannya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada semester dua ini. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pembawa risalah ALLAH,yakni Nabi Muhammad SAW.
            Makalah ini merupakan pemenuhan dari salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Namun buku ini juga dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui dan mendalami islam dan pengembangan ilmu pengetahuan alam.
            Makalah ini diharapkan dapat memberikan solusi berdasarkan wawasan keislaman kepada pembaca khususnya dari kalangan mahasiswa karena kajian yang dibahas berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam yang lagi jaya pada saat-saat ini. Makalah ini membekali pencerahan spiritual dan intelektual  yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahamai.
            Sebagai akhir dari pengantar ini, kami mengucpkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu kelancaran dalam proses pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan untuk kesempurnaan makalh ini lebih lanjut. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, amin.







BAB I PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Dalam mejalani hidup, manusia memerlukan agama sebagai pedoman dalam membimbing dan mengarahkan kehidupannya agar selalu berada di jalan yang benar. Agama tidak skedar dijadikan sebagai identitas belaka, melainkan benar-benar difungsikan dalam kehidupan sehari-hari agar kehidupan manusia terbimbing dan terarah. Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna sangat ementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang di orientasikan sebagai sarana ibadah pengabdian muslim kepada ALLAH SWT dan melaksanakan amanat khalifatullah dimuka bumi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi. Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian.
Di sinilah, peran agama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sangat penting untuk ditengok kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin





B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa Perbedaan antara Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam?
2.      Bagaimana Perkembangan Khazanah Kemajuan Iptek dalam Sejarah Peradaban Islam?
3.      Kemana Arah Pengembangan Iptek dalam Islam?
4.      Bagaimana Berperilaku  Islami  dalam Menghadapi Kemajuan Iptek?

C.     TUJUAN
1.      Diharapkan dapat mengetahui konsep ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam
2.      Di harapkan dapat mengetahui khazanah kemajuan iptek dalam sejarah peradaban islam
3.      Diharapkan dapat mengetahui arah pengembangan iptek dalam islam
4.      Diharapkan dapat berprilaku sesuai islam dalam menghadapi kemajuan iptek

D.    MANFAAT
Bagi pembaca :
1.      Dapat  menjadi tuntunan dalam memanfaatkan iptek dengan sebaik mungkin
2.      Dapat menjawab tantangan zaman melalui perkembangan iptek secara islami
3.      Dapat berprilaku sesuai kaidah islam dalam menghadapi kemajuan iptek
4.      Dapat menambah khazanah kemajuan iptek dalam peradaban islam
5.      Dapat mengetahui konsep ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam

Bagi penulis :
1.      Memberikan wawasan baru tentang perkembangan iptek  secara islami
2.      Mendapatkan  informasi tentang kemajuan iptek dalam islam
3.      Dapat memberikan solusi bagaimana mengatasi perkembangan iptek secara islami
4.      Dapat mengetahui arah pengembangan kemajuan iptek secara islami

BAB II PEMBAHASAN
ISLAM DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

A.    Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam
Iptek menjadi dasar dan pondasi yang menyangga bangunan peradaban modern. IPTEK terdiri dari dua hal yaitu Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi, dua hal yangmemiliki arti dan peranan masing-masing dalam kehidupan manusia. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah muncul sejak manusia lahir, hal ini dikarenakan manusia diberi akal dan kemampuan berfikir dari Allah SWT.Ilmu Pengetahuan dapat didefinisiikan sebagai segala hal yang diketahui manusia dengan pancaindra dan intuisi serta sudah diproses sedemikian ruga sehingga objektif dan kebenarannya dapat diuji secara ilmiah. Teknologi, di lain pihak merupakan salah satu produk dari ilmu pengetahuan yang berwujud maupun berupa bentuk. Konsep umum dari munculnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi awal mulanya adalah untuk memudahkan kehidupan manusia dan untuk menjelaskan fenonema alam yang tadinya tidak dapat dijelaskan sehingga manusia memiliki tingkat pemahaman yang lebih maju sekaligus komplek mengenai alam semesta. Terlepas dari tujuan dan konsep awal,implementasi dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berada di tangan manusia dan mampu memiliki dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.Sebagai faktor pembentuk budaya masyarakat, IPTEK memiliki andil atas fenomena yang kita jumpai saat ini.
Dalam Islam pun diajarkan untuk menuntuk ilmu yang mengindikasikan bahwaselama ilmu tersebut bermanfaat bagi umatnya (dalam konteks positif) maka diwajibkan bagi umatnya untuk mempelajarinya, hal ini juga sebagai wujud syukur akan Allah atas kemampuan akal dan kemampuan berfikir yang diberikan. Selain itu, Agama Islam juga mewajibkan bagi umatnya untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh untuk kebaikan didunia, yang di realisasikan dalam bentuk teknologi serta pengajaran akan ilmu tersebut.
Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Oleh karena itu ilmu dalam pemikiran islam terbagi menjadi ilmu bersifat abadi dan ilmu bersifat perolehan. Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat hubungan yang harmonis yang disebut Dinul Islam yang memiliki 3 unsur pokok yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Dalam Q.S. Ibrahim (14) : 24-25




“ (24) Maka kamu perhatikan bagaimana ALLAH telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musin dengan seizing tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Ini gambaran bahwa antara iman, ilmu, dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh . iman di identikkan dengan dengan akar pohon yang menopang tegaknya ajaran islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon yang di identikkan dengan teknologidan seni. Iptek yang dikembangakan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal shalih, bukan kerusakan alam.  

B.     Khazanah Kemajuan IPTEK dalam Sejarah Peradaban Islam

 Kejayaan Islam masa Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
 Kegemilangan Iptek di Masa Khilafah Abasiyyah
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam. Tapi jangan khawatir, someday Islam akan kembali jaya dan tugas kita semua untuk mewujudkannya.
Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.
Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Saat itu, kata Lutfi, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.
Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli. Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki.
Runtuhnya sebuah kejayaan
Jatuh itu memang menyakitkan. Apalagi ketika kita udah berada jauh di puncak kesuksesan. Setelah berhasil membangun kejayaan selama 14 abad lebih, akhirnya peradaban Islam jatuh tersungkur. Inilah kisah tragis yang dialami peradaban Islam. Bukan tanpa sebab tentunya. Serangan pemikiran dan militer dari Barat bertubi-tubi menguncang Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah. Puncaknya, adalah tergusurnya Khilafah Islamiyah di Turki dari pentas perpolitikan dunia.
Jadi terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah.
C.     Arah Pengembangan IPTEK dalam Islam
Allah telah menciptakan manusia dengan potensi akal untuk memahami elemen- elemen alam, menyelidiki dan menggunakan benda-benda dalam bumi dan langit demi kebutuhannya. Allah SWT dalam QS. 17(Al Isra’) 70 berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Artinya: Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Dalam ayat tersebut, Al-Qur’an sakhhara yang artinya menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya ini dengan segala manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia. Peran manusia sebagai khalifah dimuka bumi menyebabkan alam semesta tunduk dalam kepemimpinan manusia yang sejalan dengan maksud Allah SWT. Dalam QS. 13(Ar Ra’du) : 2 Allah berfirman:
اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Artinya : Alla lah Yang meninggikan langit tanpa tiang(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, manundukkan matahari dan bulan. Masing- masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan(makhluk Nya), menjelaskan tanda- tanda(kebesaranNya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.

Dengan kemampuan akal, ilmu, dan teknolginya manusia dapat meniru segala kekuatan beraneka makhluk, manusia dengan kapal udara dan jet dapat terbang ke udara seperti burung. Manusia dapat menembus bumi dengan teknologinya serta menggali segala mineral dan minyak yang terpendam dalam bumi.
Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam hendaknya memiliki dasar dan motif bahwa yang mereka lakukan tersebut adalah untuk memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari keridhaan Allah sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman dalam Q.S. Al Bayyinah 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
Ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah iqra’bismirabikalladzi khalaq (bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Hal ini bermakna ketundukan manusia bukan kepada alam dan segala yang diciptakan, melainkan pada penguasa Alam. Allama bil qalam ( yang mengajar dengan qalam). Makna qalam terus berkembang sepanjang jalan, mulai dari alat tulis sederhana,sampai arti qalam di abad modern ini, sepeti mesin tik,computer,mesin percetakan,cetak jarak jauh,internet, dan handphone yang beraneka fungsinya yang terus berkembang. Qalam adalah alat tulis dan alat perekam,sebagai lambing teknologi.
Dalam Islam segala amal perbuatan(manusia muslim) senantiasa di kaitkan dengan keridhaan Allah. Dalam masalah ibadah senantiasa memperhatikan petunjuk dari Rasulullah. Tapi dalam menghadapi dunia yang terus berkembang ini, manusia diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk di kembangkan dengan memperhatikan batasan-batasan yang telah di tentukan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah lapangan kegiatan yang terus-menerus berkembang dan perlu dikembangkan karena mempunyai manfaat sebagai penunjang kehidupan manusia. Dengan adanya teknologi, banyak segi kehidupan manusia yang dipermudah berpijak kepada dasar dan motif dalam pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kecanggihan teknologi bagi umat muslim taklain untuk memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari ke ridhaan Allah, sehingga dapat di capai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:
  1. Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
  2. Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.
  3. Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
  4. Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
  5. Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.
  6. Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM (Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya.
  7. Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan.
  8. Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut maka musti diawali dengan revolusi pemikiran (Taghyiir al Afkaar) dan pemahaman manusia terhadap Islam.

D.    Berperilaku Islami dalam Menghadapi Kemajuan IPTEK
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat modern dan postmodern saat ini memang memperlihatkan kemajuan dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi umat manusia. Namun lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama.
Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Karena alam semesta –yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan–, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW — yang dipelajari melalui agama– adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat) Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu Sumber yang Sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta. Dalam membicarakan tentang iptek mulai dikaitkan dengan moral dan agama. Dalam kaitan ini, keterkaitan iptek dengan moral (agama) diharapkan bukan hanya pada aspek penggunaannya saja ( aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontology) dan metodologi(epistemology)nya sekaligus.
Dinegara ini gagasan tentang pendidikan imtak dan iptek sudah lama di gulirkan seperti yang diterapkan BJ.Habibie karena adanya problem dikotomi antara apa yang di namakan ilmu-ilmu umum(sains) dan ilmu-ilmiu agama (islam) juga disebabkan adanya  kenyataan bahwa pengembangan iptek dalam system pendidikan di Indonesia tampaknya berjalan sendiri tanpa dukungan asas iman dan taqwa yang kuat sehingga pengembangan dan kemajuan iptek tidak memiliki nilai tambah dan manfaat  untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Secara lebih spesifik integrasi pendidikan imtak dan iptek di perlukan karena empat alasan :
1.      Iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan taqwa kepada allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtak,iptek bias disalah gunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif (merusak)
2.      Iptek yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik,materialistic dan hedonistic yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang di anut oleh bangsa Indonesia
3.      Dalam kehidupan, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan jasmani), tetapi juga membutuhkan imtak dan nilai-nilai surgawi( kebutuhan spiritual) oleh karena itu, penekanan pada salah satu sisi, akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah , dan menyalahi hipnat kebijaksanaan tuhan yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan batin, dunia dan akhirat
4.      Imtaq menjadi landasan dan dasa paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup.tanpa dasar imtak, segala atribut duniawi,seperti harta, pangkat, ipte, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan.

Aqidah Islam sebagai landasan iptek
Jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Jadi, yang dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib bersumber kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits. Ringkasnya, Al-Qur`an dan Al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Asalkan iptek yang dikembangkan sesuai dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits.
Setiap manusia diberi hidayah allah SWT berupa ‘’ Alat” untuk mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah Indra, untuk menangkap kebenaran fisik Naluri, untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara pribadi maupun social. Pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa,ilmiah dan fisafih). Akal juga merupakan pengantar untuk menuju kebenaran tertinggi. Imajinasi, daya hayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya
Hati nurani, suatu kemampuan manusia  untuk dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral
Dalam menghadapi perkembangan budaya,manusia dengan perkembangan iptek yang pesat, perlu mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma islam dengan perkembangan tersebut.Menurut Mehdi Ghulsyani (1995),Menurut Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah. “ Islamisasi Ilmu Pengetahuan “dalam menghadapi perkembangan iptek ilmuwan muslim dapat di kelompokan dalam 3 kelompok ;
  1. Kelompok yang menganggap iptek modern bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil iptek modern dengan mencari ayat-ayat al-qur’an yang sesuai
  2. Kelompok yang bekerja dengan iptek modern, tetapi berusaha juga mempelajari sejarh dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yamg tidak islami
3.      Kelompok yang percaya adanya iptek islam dan berusaha membangunnya
Untuk menyikapi iptek dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah memanfaatkan perkembangan iptek untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.Sedangkan,kebenaran iptek menurut islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya iptek sendiri.Iptek akan bermanfaat apabila;
  1. Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya
  2. Dapan membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik)
  3. Dapat memberikan pedoman bagi sesame
  4. Dapat menyelesaikan persoalan umat
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Iptek terdiri dari dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi .Ilmu Pengetahuan dapat didefinisiikan sebagai segala hal yang diketahui manusia dengan pancaindra. Sedangkan Teknologi merupakan salah satu produk dari ilmu pengetahuan yang berwujud maupun berupa bentuk.
2.       Kegemilangan Islam di jaman Abassyiah menjadi kiblat peradaban dunia. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi beerkembang begitu pesat.
3.      Perkembangan Iptek bagi umat muslim tak lain kecuali untuk memperoleh kesejahteraan di dunia sebagai jembatan untuk mencari ridho ALLAH SWT.
4.      Menghadapi kemajuan Iptek harus sesuai dengan indera, naluri, pikiran, imajinasi serta hati nurani dengan pengertian secara luas.
3.2  Saran
kemajuan IPTEK sangat berdampak bagi kehidupan manusia didunia. Sebagai generasi muda penerus bangsa sudah selayaknyabelajar untuk menggunakan dan memanfaatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik mungkin namun tetap berdasar aturan-aturan Agama Islam . Sudah semestinya kita bersatu menguasai IPTEK agar tidak kalah dengan bangsa lain itu. Namun, tetap saja, jika kita telah mendapatkan IPTEK, segeralah imbangi diri anda dengan Iman dan Taqwa
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Ravi Garibaldi. 2011. LTM MPK Agama Islam.

Tim Dosen Pai Unesa. 2013. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Surabaya : Unesa University Press

http://www.al-shia.org/html/id/books/001/01.html

2 komentar: